Felix Siauw; The Power Of Kaos

0
22
The Power Of Kaos
Bukan kaosnya yang bikin ramai, tapi apa yang tertulis padanya yang bikin bernilai. Tapi dibandingkan antara apa yang tertulis, lebih lagi berarti yang memakai.
Siapa yang memakai tergantung apa yang diyakini. Keyakinan inilah yang dapat mengganti pemikiran orang lain dan akan berujung pada pergantian kecenderungan, pilihan, bahkan tentang hidup dan mati.
Yang ditakutkan kafir Quraisy dahulu bukanlah sorban Nabi, bukan pula jubah Nabi. Bukan pula diri raga Nabi. Yang ditakutkan Quraisy jahiliyyah adalah apa yang Nabi bawa, wahyu yang ada di dadanya.
Mereka khawatir ide yang dibawa Nabi akan tersebar pada ummat, yang berujung pada sadarnya ummat akan kedzaliman yang selama ini berlaku pada mereka, hingga ummat akan berpaling pada Islam berpaling pada Allah.
Firaun juga tak takutkan Musa, yang mereka takutkan adalah apa yang Musa bawa, yang sudah diprediksi akan menggantikan Firaun dan semua kekuasaannya, Firaun cinta dunia dan takkkan membiarkan itu.
Namrud juga berharap dengan membakar Ibrahim, ideologi Ibrahim juga akan musnah bersamanya, tauhid akan hilang dimakan api, yang Namrud takutkan bukan Ibrahim tapi ideologi yang Ibrahim emban, tauhid dari Allah.
Maka bukan yang tertulis pada kaos yang dikhawatirkan, apagi kaosnya, kaos memang tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa mengganti apa-apa. Tapi yang memakai kaos, pikiran dan idenya itulah ruh dan nyawanya.
Sepertinya mereka belajar dari Quraisy jahiliyyah, Namrud yang arogan dan Firaun yang sombong, yakni menghancurkan kaosnya dulu, menangkapi pemakai kaosnya dan melarang pemikirannya.
Tapi ingat, sejarah takkan pernah meleset. Quraisy terjungkal, Arogansi Namrud dihancurkan seeokor nyamuk, dan mulut Firaun disumpal pasir Laut Merah. Bagi yang menentang Allah dan Rasul, menyakiti ulama, itu akhirnya
Kaos kami bertulis “YukNgaji”, yang merupakan semangat untuk terus belajar, memohon petunjuk pada Allah, sebagaimana doa pemuda Kahfi, “Sempurnakan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini”.
Berganti orang itu biasa, tapi panggilan kami adalah mengganti pemikiran, dari taat pada aturan manusia menuju pada taat pada aturan Allah, menuju penerapan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Bukan kaosnya yang bikin ramai, tapi apa yang tertulis padanya yang bikin bernilai. Tapi dibandingkan antara apa yang tertulis, lebih lagi berarti yang memakai
Siapa yang memakai tergantung apa yang diyakini. Keyakinan inilah yang dapat mengganti pemikiran orang lain dan akan berujung pada pergantian kecenderungan, pilihan, bahkan tentang hidup dan mati.
Yang ditakutkan kafir Quraisy dahulu bukanlah sorban Nabi, bukan pula jubah Nabi. Bukan pula diri raga Nabi. Yang ditakutkan Quraisy jahiliyyah adalah apa yang Nabi bawa, wahyu yang ada di dadanya.
Mereka khawatir ide yang dibawa Nabi akan tersebar pada ummat, yang berujung pada sadarnya ummat akan kedzaliman yang selama ini berlaku pada mereka, hingga ummat akan berpaling pada Islam berpaling pada Allah.
Firaun juga tak takutkan Musa, yang mereka takutkan adalah apa yang Musa bawa, yang sudah diprediksi akan menggantikan Firaun dan semua kekuasaannya, Firaun cinta dunia dan takkan membiarkan itu.
Namrud juga berharap dengan membakar Ibrahim, ideologi Ibrahim juga akan musnah bersamanya, tauhid akan hilang dimakan api, yang Namrud takutkan bukan Ibrahim tapi ideologi yang Ibrahim emban, tauhid dari Allah.
Maka bukan yang tertulis pada kaos yang dikhawatirkan, apagi kaosnya, kaos memang tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa mengganti apa-apa. Tapi yang memakai kaos, pikiran dan idenya itulah ruh dan nyawanya.
Sepertinya mereka belajar dari Quraisy jahiliyyah, Namrud yang arogan dan Firaun yang sombong, yakni menghancurkan kaosnya dulu, menangkapi pemakai kaosnya dan melarang pemikirannya.
Tapi ingat, sejarah takkan pernah meleset. Quraisy terjungkal, Arogansi Namrud dihancurkan seeokor nyamuk, dan mulut Firaun disumpal pasir Laut Merah. Bagi yang menentang Allah dan Rasul, menyakiti ulama, itu akhirnya.
Kaos kami bertulis “YukNgaji”, yang merupakan semangat untuk terus belajar, memohon petunjuk pada Allah, sebagaimana doa pemuda Kahfi, “Sempurnakan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini”.
Berganti orang itu biasa, tapi panggilan kami adalah mengganti pemikiran, dari taat pada aturan manusia menuju pada taat pada aturan Allah, menuju penerapan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here